SANTRI MIJAT?

Assalamu’alaikum.
Hidup di kota besar seperti Jogja ini bukan hal yang mudah, bahkan bisa saja terasa sulit. Berbeda ketika posisi kita sebagai seorang mahasiswa yang masih tergantung kepada kedua orang tua. Tapi semua butuh perjuangan “(mungkin) kalo tidak berjuang, bukan hidup namanya, karena hidup itu perjuangan”. Sebagian kalo anak laki-laki atau khususnya perempuan yang bisa dimaklumi bila bayar-bayar dan hidup dibiayai oleh orang tua mereka, hidup bisa lebih ringan. Beda dengan anak perempuan dan (khususnya) laki-laki yang mencoba berjuang sendiri, karena pastinya malu kalo anak khususnya laki-laki kok dikit-dikit minta ke orang tua. Oleh karenanya biasanya anak laki-laki berusaha untuk berjuang menghidupi diri, setidaknya untuk biaya makan. Ada juga sih memang, yang perempuan juga berpikir seperti itu, berjuang sendiri.

Kenalin, aku Utomo, asli Pati yang jauh-jauh merantau dari kotaku ke Jogja, menjadi mahasiswa di sekolah kapal wisata. Aku tinggal di Pondok Pesantren Miftahussalam Jogja, tepatnya di dusun Karanggeneng, 500 meter selatan wisata yang lagi hits di Jogja, Mini Zoo Sleman Exotarium ato Jogja Exotarium. Berada di Sendangadi, Kecamatan Mlati, Sleman, D.I.Yogyakarta, Aku tinggal di pesantren pastinya menjadikan saya sebagai santri. Ternyata, niat untuk mengaji di pesantren ini menjadikan saya santri yang di-“anak tiri”-kan. “anak tiri”? YA! Anak yang biasanya disuruh ini itu macem-macem. Kalo yang lain lagi pada tadarus, yasinan ato kegiatan apalah di Masjid, kadang aku disuruh nglakuin sesuatu yang berbeda dari santri lain. Disuruh mijitin Pak Kyai. Pikirku, aku jauh-jauh sekolah sambil mondok cuma suruh mijitin Kyai 😮 😮 😮

TAPI INI YANG SPESIAL! Ko Spesial? Karena ternyata saya jadi anak tiri yang beruntung. Satu-satunya santri (saat ini) yang bisa mijit dan siapa lagi yang bisa mijitin Kyai coba. (mungkin) Lebih beruntung dari santri yang lain. Ga sembarangan santrinya lho ya. Ga cuma itu, ternyata di balik semua itu seorang guru tau latar belakang santrinya, termasuk aku.

Banyak pelajaran yang aku dapetin selama mijitin Kyai. Sambil mijit pastinya sambil ngobrol ini itu, dapet cerita, ilmu, pengalaman macem-macem dari Kyai. Bisa dekat dengan Kyai itu suatu yang sesuatu banget, dari sekian banyak santri di pesantren ini. Alhamdulillah, walopun masih termasuk baru, tapi sesuatulah ya.

Salah satu pas lagi mijat

Ga cuma itu, mijitin Kyai jadi salah satu pembelajaran buatku sekaligus bekal. Sembari dapet cerita, pengalaman, ilmu ato istilahnya tu ngaji, aku juga belajar memijat agar lebih baik lagi. Alhamdulillah aku sekarang sudah bergabung di program aplikasi Go-Message SPA Jogja. Hasilnya lumayan selagi bisa Sekolah, Mondok, sekaligus Kerja.

Satu yang terpenting lagi buatku. Satu orang yang jadi inspirasiku sekaligus memberi pelajaran memijat kepadaku, santri juga yang sekarang sudah tidak tinggal di pondok lagi. Alhamdulillah berkat dia, aku bisa seperti ini. Itu yang dinamakan Ilmu yang manfaat.

Demikian, semoga ini juga jadi manfaat. Wassalamualaiku.

Oleh: Utomo
18 Februari 2019

Kata Kunci: Pijat Spesial ala Santri Miftahussalam Karanggeneng Sendangadi Mlati Sleman Jogja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *