Gara-gara Novel

Celoteh Santri

GARA- GARA NOVEL

Saya orang yang sebenarnya tidak begitu suka membaca novel, alasannya karena bagi saya membaca novel sangat membosankan karena setiap lembarnya full dengan tulisan. Sesekali ada gambar namun itu biasanya di awal dan diakhir. Saya tipe orang yang lebih suka membaca buku yang bertulis dan bergambar. Tapi itu sifat buruk saya 5 tahun yang lalu ketika membaca buku, sekarang lebih tidak memilih membaca buku atatu novel. Karena setelah banyak membaca buku dan beberapa novel, saya menjadi tertarik membaca buku apa saja termasuk novel. 
 
Novel pertama yang pernah saya baca adalah yang berjudul “NEGERI 5 MENARA” yang ditulis oleh mas A. Fuadi. Dari bagian awal novel hingga akhir, saya bisa memahami jalan cerita dan imajinasi saya bermain di angan-angan. Sungguh tak seperti biasanya saya membaca novel, karena saya orangnya benar-benar mudah bosan ketika membaca novel. Hal yang membuat saya tertarik membaca novel ini selain jalan ceritanya yang menceritakan tentang kehidupan santri di sebuah Pondok Pesantren yang terkenal dan terbesar di Jawa Timur.
Selain jalan cerita pada novel yang membuat saya tertarik, cerita dari sahabat mengajar saya dulu ketika masih di Nganjuk, beliau adalah A’an Van J’ndoh Hariyanto. Cerita beliau membuat saya lebih tertarik untuk mengikuti cerita novel Negeri 5 Menara hingga akhir. Beliau cerita banyak hal tentang penglaman beliau menjadi santri Pondok Pesantren Gontor di Ponorogo dan Banyuwangi hingga menjadi mahasiswa dan ustadz disana.
Bagian cerita beliau yang membuat saya tertarik ketika beliau cerita tentang kehidupan sewaktu beliau masih menjadi santri. Displin, tertib dan penuh hormat dengan ustadz dan peraturan adalah sebuah kewajiban. Bangun jam 03.00, istirahat jam 23.00 kadang bisa lebih. Pernah dipukul rotan oleh ustadznya karena melakukan kesalahan, beliau tak melaporkan hal tersebut ke orang tuanya. Ketika puncak acara pondok sebelum liburan ada pentas seni, beliau menjadi ketua dan berhasil menyuguhkan pementasan yang ciamik. Pernah menjadi ketua untuk lomba Pramuka pada Jambore Nasional, berhasil menjadi juara untuk kategori ketertiban, kekompakan dan yel-yel yang kreatif. Sungguh begitu menggoda saya yang belum pernah “mondok”. 
Setelah membaca novel dan mendengarkan cerita inspirasi dari sahabat saya, timbul pertanyaan dalam hati ini, “Ya Allah, apakah masih ada kesempatan kah untuk saya menimba Ilmu di sebuah Pondok Pesantren ?” Pada saat itu saya bergumam tersebut masih berumur 19 Tahun setelah lulus SMA.
Alhamdulillah, atas Ijin-Nya, saya bisa merasakan menimba Ilmu di Pondok Pesantren 
miftahussalamjogja.blogspot.com. Sudah hampir setahun saya menimba Ilmu disana, banyak hal yang saya dapat, banyak hal yang saya pahami dan saya mengerti. Pondok Pesantren ini sesuai dengan apa yang saya imajinasikan. Disana saya lebih banyak mengaji tentang kehidupan bukan mengaji kitab. 

“Kalian di kampus sudah mengaji kitab (buku), di Pondok kalian jangan ngaji kitab lagi” Begitulah titah dari Pengasuh pondok pesantren, Kyai kami. Dengan dukungan fasilitas yang memadai, kami santri miftahussalamjogja.blogspot.com lebih bisa belajar mengaji tentang kehidupan. Pernah saya ditanya oleh teman saya yang tertarik dengan Ponpes Miftahussalam 
“Mas Rasyid, di pondok sana belajar tentang apa ?” Tanya teman saya penasaran
“Kami disana belajar tentang kehidupan, bagaimana menjadi pribadi yang excellent untuk masyarakat dan umat nantinya. Dengan mentadzaburi dan mengamalkan al-quran serta al-hadish” Jawab saya dengan ramah dan penuh senyuman.
“Disana ada biayanya atau ngak mas? Karena saya kemarin lihat brosurnya “Pondok GRATIS Khusus Mahasiswa. Kalau ada, beberapa mas biayanya?” Teman saya menjadi lebih penasaran.
“Ada biayanya, itu untuk kebutuhan air, lstrik dan gas karena disana kami bisa masak sendiri. Nominalnya tidak lebih besar dari biaya kebutuhan kuota untuk gadgetmu”. Saya jawab dengan canda dan senyuman
Para sahabat saya sepondok bernama Wiwit Priyanto, Nur Azmi Ainul Bashir, Imanu FA, Muhammad Syafii Bin Syahrul, Ipoel Saiful Anwar, Teguh Id, Dimas Syafrizal Bachri, Edwin Louwstdge, Yogi Catur Cahyana dan masih banyak nama-nama sahabat saya yang belum saya cantumkan 🙂. Mereka bisa ditanya tentang Ponpes Miftahussalam, mereka sudah sangat paham tentang Ponpes Miftahussalam dan bisa ditanyakan untuk pengalaman mereka selama di pondok. Pasti cerita mereka akan berbeda-beda. ^_^
Sebenarnya masih banyak cerita tentang pondok pesantren, Ponpes Miftahussalam mungkin di episode selanjutnya. Ini cerita awal saya sebelum mondok, cerita selanjutnya akan saya cerita kan tentang awal hari-hari di pondok hingga saat ini. 
Dan semua cerita tersebut berawal dari “GARA-GARA NOVEL”.Semoga saya dimampukan menulis untuk cerita selanjutnya ^_^ Salam Hangat untuk Umat.

Tags :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Ikuti kami